Minggu 10 Mei 2026 - 20:03
Perempuan Merupakan Penggerak Utama Perubahan Sosial

Hawzah/ Direktur Pusat Riset Perempuan dan Keluarga menegaskan peran historis perempuan dalam transformasi sosial dunia Islam. Ia mengatakan bahwa pengalaman sejarah Syiah menunjukkan bahwa perempuan senantiasa memainkan peran penting dalam momen-momen krusial sosial dan politik. Saat ini pun, kehadiran luas kaum perempuan di berbagai bidang sosial dapat menjadi faktor yang mempererat hubungan antargenerasi serta memperkuat identitas keagamaan dan budaya masyarakat.

Berita Hawzah – Hujjatul Islam wal Muslimin Muhammad reza Zibaeinejad dalam mawkib media ‘Ummat Mab‘uts’ yang berada di bawah Pusat Media Hawzah Ilmiyah di Qom, membahas posisi dan peran perempuan dalam transformasi sosial dan politik. Ia, dengan merujuk pada pengalaman historis Syiah dalam menghadapi berbagai krisis, menyatakan: Salah satu karakteristik menonjol mazhab Syiah adalah kemampuannya mengubah ancaman menjadi peluang bersejarah; sebuah jalan yang berulang kali terjadi sepanjang sejarah, dan dalam banyak fase tersebut perempuan memainkan peran yang menentukan.

Ia juga menyinggung contoh-contoh sejarah pada masa awal Islam dan menambahkan: Dalam sejarah Syiah, tokoh-tokoh seperti Sayidah Fatimah az-Zahra (sa) dan Sayidah Zainab (sa) merupakan contoh nyata perempuan-perempuan yang mampu mengubah arah transformasi sosial dan keagamaan di tengah kondisi sulit. Khutbah-khutbah dan penjelasan Sayidah Fatimah Zahra (sa) dalam membela wilayah (kepemimpinan Imam Ali), serta peran tak tergantikan Sayidah Zainab (sa) dalam meriwayatkan dan menjelaskan peristiwa Asyura, merupakan contoh bagaimana sebuah ancaman besar dapat diubah menjadi peluang untuk menyebarkan pesan Islam.

Menerima Wilayah Ilahi Sama dengan Menerima Rububiyah Ilahi

Direktur Pusat Riset Perempuan dan Keluarga, sembari menyinggung keberlanjutan pendekatan ini dalam sejarah Syiah, menyatakan: Setelah peristiwa Asyura, para Imam Ahlulbait (as) juga mampu membuka jalan baru bagi masyarakat Syiah melalui pengelolaan situasi sosial yang sulit. Hingga pada masa Imam Muhammad al-Baqir (as), arus Syiah berhasil keluar dari kondisi keterasingan dan tekanan politik menuju posisi sebagai rujukan keilmuan di dunia Islam.

Dalam lanjutan penjelasannya, ia menyatakan bahwa “wilayah ilahi” merupakan salah satu konsep paling mendasar dalam pemikiran Syiah. Ia menegaskan: Dalam pandangan Syiah, wilayah ilahi adalah poros utama sistem nilai dan dapat disebut sebagai “nilai dari segala nilai”. Menerima wilayah ilahi pada hakikatnya sama dengan menerima rububiyah (ketuhanan dan pemeliharaan) Allah serta menghubungkan manusia dengan jalan hidayah; sebuah jalan yang laksana tali yang kokoh, menghubungkan manusia kepada tujuan akhirnya, meskipun di sepanjang perjalanan ia menghadapi banyak kesulitan dan tantangan.

Peran Menonjol Perempuan di Arena Sosial

Hujjatul Islam wal Muslimin Zibaeinejad, sembari menyinggung berbagai transformasi sosial dalam beberapa tahun terakhir serta kehadiran perempuan di berbagai arena sosial, mengatakan: Kajian terhadap komposisi demografis sejumlah perkumpulan dan gerakan sosial menunjukkan bahwa perempuan memiliki porsi yang sangat signifikan dalam kehadiran tersebut. Bahkan dalam beberapa kasus, sekitar 70 persen peserta yang hadir adalah kaum perempuan, dan para lelaki pun dalam banyak keadaan turut berpartisipasi karena dipengaruhi atau didampingi oleh istri mereka dalam gerakan-gerakan tersebut.

Ia menambahkan: Hal yang patut diperhatikan adalah bahwa di tengah kerumunan itu hadir individu-individu dengan selera dan gaya hidup yang beragam. Bahkan perempuan yang secara penampilan tampak jauh dari pola-pola konvensional pun ikut hadir dengan penuh semangat dan antusiasme, serta turut mendukung simbol-simbol dan slogan-slogan keagamaan. Hal ini menunjukkan bahwa sebagian simbol identitas masyarakat bekerja melampaui batas-batas penampilan lahiriah.

Perlunya Menciptakan Ruang bagi Aktivitas Sosial Perempuan

Dosen hawzah dan universitas ini, sembari menyinggung sejumlah kekurangan dalam bidang tersebut, menegaskan: Menyediakan ruang dan kondisi yang tepat bagi aktivitas sosial perempuan dapat mengaktifkan berbagai potensi besar yang dimiliki masyarakat.

Direktur Pusat Riset Perempuan dan Keluarga menyebut “arah dan bimbingan” sebagai unsur penting ketiga dalam persoalan ini dan berkata: Jika seorang perempuan memiliki kepribadian dan ruang gerak sosial, namun arah geraknya tidak berada dalam kerangka nilai-nilai ilahi, maka potensi sosial tersebut bisa saja terseret menuju jalan-jalan yang keliru.

Masyarakat Harus Memanfaatkan Kapasitas Perempuan dalam Transformasi Sosial

Direktur Pusat Riset Perempuan dan Keluarga selanjutnya menegaskan bahwa masyarakat harus memanfaatkan potensi perempuan dalam berbagai transformasi sosial. Ia menekankan: Untuk mewujudkan tujuan tersebut, ada tiga hal yang harus diperhatikan. Pertama, menjaga dan memperkuat kepribadian serta martabat perempuan; kedua, menyediakan ruang yang tepat bagi aktivitas dan peran sosial mereka; dan ketiga, mencegah munculnya kebingungan dalam nilai-nilai serta simbol-simbol identitas masyarakat.

Ia menambahkan: Jika ketiga prinsip ini diperhatikan, maka perempuan akan tetap mampu memainkan peran sebagai salah satu kekuatan paling penting dalam menciptakan perubahan di masyarakat, dan bersama berbagai lapisan masyarakat lainnya, memiliki kontribusi yang menentukan dalam pembentukan masa depan budaya dan sosial negara.

Tagar

Komentar Anda

You are replying to: .
captcha